Indonesiapulse – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan resmi untuk mengadakan pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak awal Januari 2025, tak lama setelah pelantikan Trump sebagai Presiden AS.
Pernyataan tersebut disampaikan Menlu Sugiono dalam konferensi pers di Ankara, Turki, Kamis malam (10/4), sebagai respons atas perkembangan terbaru mengenai penundaan kebijakan tarif resiprokal oleh Pemerintah AS terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia.
“Kita sudah melayangkan permintaan pertemuan dengan Presiden Trump itu beberapa waktu yang lalu, bahkan jauh sebelum pengumuman tarif sebenarnya. Permintaan itu disampaikan sesaat setelah Presiden Trump dilantik,” kata Menlu Sugiono.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri dan instansi terkait, telah mengirimkan perwakilan untuk menjalin komunikasi intensif dengan mitra mereka di Washington D.C. Tujuannya adalah memperkuat hubungan bilateral sekaligus merespons situasi yang berkembang akibat kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan AS.
“Kita terus menjalin komunikasi diplomatik dan menunggu penjadwalan resmi dari pihak Gedung Putih untuk pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengumumkan penundaan penerapan tarif resiprokal selama 90 hari bagi sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Kebijakan itu menjadi angin segar di tengah kekhawatiran pelaku ekonomi global atas potensi ketegangan perdagangan baru. Namun, dalam waktu yang sama, AS tetap menaikkan tarif impor secara signifikan terhadap China, termasuk bea masuk barang-barang strategis seperti baja, aluminium, dan otomotif, hingga 125 persen.
Trump menyatakan bahwa lebih dari 75 negara telah menunjukkan kesiapan untuk membuka jalur negosiasi perdagangan bilateral dengan AS. Sementara itu, pemerintah AS juga tengah meninjau kemungkinan kenaikan tarif di sektor farmasi.
Menlu Sugiono menegaskan bahwa Indonesia siap menghadapi dinamika perdagangan global ini. Pemerintah, ujarnya, telah menyiapkan sejumlah paket kebijakan dan proposal negosiasi yang akan dibawa dalam pertemuan dengan Pemerintah AS di Washington D.C.
“Kami akan mengedepankan prinsip saling menguntungkan dan menjaga stabilitas perdagangan yang adil. Fokus kita adalah memastikan akses pasar tetap terbuka bagi produk Indonesia dan menciptakan peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat,” tutup Sugiono.
Pertemuan antara kedua pemimpin, jika terwujud dalam waktu dekat, diyakini akan menjadi momentum strategis untuk memperkuat hubungan dagang Indonesia-AS serta menavigasi tantangan ekonomi global yang terus berkembang.



